Friday, June 5, 2026

Pesantren dan Spirit Kebangsaan

Pesantren dan Spirit Kebangsaan
Membaca Kepemimpinan Kh. Mahrus Muhith Nahrawi dalam Menanamkan Cinta Tanah Air


Pesantren mungkin tidak selalu hadir dalam gemerlap modernitas. Bangunannya sering tampak sederhana. Suara para santri mengaji terdengar pelan di antara sunyi malam desa-desa Nusantara. Kehidupannya jauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan dan sorotan media sosial. Tetapi justru dari ruang-ruang sederhana itulah nilai-nilai tentang keimanan, kemanusiaan, kesederhanaan, dan cinta tanah air diwariskan secara perlahan dari generasi ke generasi.

Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan. Kegelisahan karena kami melihat perubahan zaman bergerak sangat cepat. Revolusi digital telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan memaknai kehidupan. Generasi muda hidup di tengah arus informasi tanpa batas, tetapi sering kehilangan kedalaman refleksi dan akar identitasnya sendiri. Nasionalisme perlahan berubah menjadi simbol formal yang kadang kehilangan makna substantif dalam kehidupan sehari-hari. Di saat yang sama, intoleransi, polarisasi sosial, dan krisis karakter semakin terasa dalam ruang kehidupan masyarakat modern. Namun di tengah kegelisahan itu, kami masih menemukan harapan. Harapan itu bernama pesantren.

Dalam tradisi pesantren, kepemimpinan memang tidak selalu lahir dari jabatan formal dan kekuasaan struktural. Kepemimpinan tumbuh dari integritas moral dan keteladanan hidup. Max Weber menyebut bentuk otoritas seperti ini sebagai charismatic authority, yaitu kewibawaan yang lahir dari kualitas personal dan pengakuan sosial masyarakat terhadap integritas seorang pemimpin (Weber, 1978). Dalam diri KH. Mahrus Muhith Nahrawi, kami melihat bagaimana kepemimpinan semacam itu hidup dan bekerja secara nyata di tengah masyarakat.

Buku ini juga ingin menunjukkan bahwa hubungan antara Islam dan nasionalisme Indonesia sesungguhnya memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Pesantren telah menjadi bagian penting dalam perjuangan bangsa sejak masa kolonial hingga mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad tahun 1945 yang dipelopori KH. Hasyim Asy’ari memperlihatkan bahwa menjaga tanah air dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan (Fealy, 1998). Karena itu, pesantren bukan ancaman bagi nasionalisme Indonesia, melainkan salah satu penjaga terpentingnya.


Detail:

Penerbit: Rabita
Judul: Pesantren dan Spirit Kebangsaan: Membaca Kepemimpinan Kh. Mahrus Muhith Nahrawi dalam Menanamkan Cinta Tanah Air
Penulis: Dr. Jasuli, S.Pd.I., S.Sos., M.Pd.I; Dr. H. Fauzan, S.Pd., M.Si; Muh. Rif’al, S.Kep., Ners., M.Pd
Editor : Miftakhul Jannah, S.Pd., M.E
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2026
Halaman: vi + 161 hlm .; ukuran buku 17,5 x 25 cm
ISBN: 978-623-5448-xx-x

Menjaga Turats, Menyapa Zaman

Menjaga Turats, Menyapa Zaman: 
Pesantren Progresif Maqnaul Ulum dalam Pemikiran Kh. Ahmad Nahrawi



Buku Menjaga Turats, Menyapa Zaman: Pesantren Progresif Maqna’ul Ulum dalam Pemikiran KH. Ahmad Nahrawi merupakan karya yang penting dan relevan dalam diskursus pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam konteks pengembangan studi pesantren di Indonesia. Buku ini hadir tidak sekadar sebagai dokumentasi historis sebuah lembaga pendidikan Islam, melainkan sebagai refleksi intelektual mengenai bagaimana pesantren mampu mempertahankan kesinambungan tradisi (continuity) sekaligus merespons perubahan sosial dan modernitas (change) secara kreatif dan bertanggung jawab.

Dalam kajian pendidikan Islam, pesantren telah lama dipahami sebagai institusi indigenous yang memiliki karakter khas dalam membentuk tradisi keilmuan, moralitas, dan spiritualitas masyarakat Muslim Nusantara (Dhofier, 2011). Keberadaan pesantren bukan hanya sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman klasik (tafaqquh fī al-dīn), tetapi juga sebagai pusat reproduksi budaya, pembentukan etika sosial, serta penjaga memori kolektif umat Islam Indonesia (Azra, 2012). Oleh karena itu, pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan identitas keislaman sekaligus membangun orientasi masa depan masyarakat Muslim di tengah arus globalisasi dan transformasi digital yang semakin kompleks.

Buku ini secara menarik memperlihatkan bahwa Pondok Pesantren Maqna’ul Ulum Sukowono tidak terjebak pada romantisme tradisi yang statis. Sebaliknya, pesantren dipotret sebagai institusi yang hidup, dinamis, dan memiliki kemampuan adaptif dalam menghadapi perubahan sosial. Dalam perspektif sosiologi pendidikan Islam, kemampuan adaptasi semacam ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki daya lenting budaya (cultural resilience) yang kuat, yakni kemampuan menjaga nilai-nilai fundamental sambil tetap membuka ruang inovasi dan pembaruan (Bruinessen, 1995).

Lebih jauh lagi, buku ini memperlihatkan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun moderasi beragama dan harmoni sosial. Sebagaimana dikemukakan Azyumardi Azra (2019), pesantren merupakan salah satu pilar utama Islam moderat di Indonesia karena mampu mengembangkan tradisi keberagamaan yang inklusif, toleran, dan kontekstual. Dalam konteks global yang diwarnai polarisasi sosial, ekstremisme, dan krisis kemanusiaan, model pendidikan pesantren seperti yang dipraktikkan di Maqna’ul Ulum menjadi sangat relevan untuk dijadikan rujukan.



Detail:

Penerbit: Rabita
Judul: Menjaga Turats, Menyapa Zaman: Pesantren Progresif Maqnaul Ulum dalam Pemikiran Kh. Ahmad Nahrawi
Penulis: Dr. Jasuli, S.Pd.I., S.Sos., M.Pd.I; Dr. H. Fauzan, S.Pd., M.Si
Editor : -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2026
Halaman: vi + 142 hlm .; ukuran buku 17,5 x 25 cm
ISBN: 978-623-5448-xx-x

Tuesday, September 23, 2025

Luka yang Tersirat


Kadang persahabatan terasa manis, penuh tawa dan cerita. Tapi nggak jarang juga berubah jadi pahit: salah paham kecil bisa jadi besar, gosip bikin retak, drama bikin capek hati. Dari situ, kita belajar satu hal penting—nggak semua orang bisa selalu ada buat kita, dan itu nggak apa-apa.

Luka yang Tersirat adalah kisah tentang kecewa yang diam-diam menorehkan luka, tapi juga tentang bagaimana seseorang bisa bangkit, berdamai dengan diri sendiri, lalu menemukan arti kebahagiaan yang lebih tulus. Bukan dari orang lain, tapi dari dalam diri—dengan menjadi pribadi yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya.

Ceritanya hangat, deket banget sama realita hidup anak muda, dan mungkin bikin kamu mikir: “Eh, ini gue banget.”

✨ Kalau kamu pernah ngerasa disakiti, dikecewakan, atau kehilangan seseorang yang dulu kamu anggap “sahabat dunia akhirat”, novel ini bisa jadi cermin buat perjalananmu. Yuk, temukan cerita lengkapnya—biar kamu sadar kalau dari luka yang tersirat, selalu ada jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan sejati.

Detail:
Judul: Luka yang Tersirat
Penulis: Kasih B. Wardani & Rita Nur halisah
Editor : -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2025
Halaman: vi + 88 hlm .; ukuran buku 14,5 x 20,5 cm
ISBN: 978-623-5448-xx-x


Monday, July 28, 2025

Maqnaul Ulum Meniti Jalan Meraih Cita Cita


Pondok Pesantren Maqna'ul Ulum didirikan pada tanggal 14 Januari 1956, bertepatan dengan tanggal 02 Jumādā al-ākhirah 1375 H. Namun pelaksanaan kesyukuran 70 tahun tersebut tidak mengikuti hari berdirinya, baik penanggalan Masehi ataupun Hijriah. Acara sujud syukur diadakan sesuai dengan penanggalan Masehi yaitu 14 Januari 1926 M, sebagai tanda dimulainya rentetan acara “70 Tahun Maqna'ul Ulum” yang akan berlangsung sampai dengan bulan Agustus 2026, dalam berbagai bentuk kegiatan.

Buku ini berisi penjelasan singkat tentang Pondok Pesantren Maqna'ul Ulum dalam usianya yang menginjak 70 tahun dalam perhitungan Miladiyah. Buku ini juga menyajikan penjelasan mengenai sejarah singkat perkembangan Pondok Pesantren Maqna'ul Ulum, yang dimulai dari mengkaji Al-Qur'an, berkembang ke pendidikan formal dan pesantren formal.

Selain itu, buku ini pun memuat sejarah kunjungan para tamu penting, seperti para tokoh masyarakat dari dalam dan luar negeri, dan sebagainya. Kunjungan para tamu dan apa-apa yang mereka sampaikan, dalam bentuk penghargaan, doa dan harapan sangatlah berharga bagi warga Pondok Pesantren Maqna'ul Ulum Deklekor Sukorejo Sukowono Jember.


Detail:
Judul: Maqnaul Ulum Meniti Jalan Meraih Cita Cita
Penulis: Mahrus Muhith
Editor : Liana Threestayanti
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2025
Halaman: iii + 40 hlm .; 16 cm x 24 cm
ISBN: 978-623-5448-xx-x



Wednesday, June 25, 2025

Mencetak Santri Melek Digital: Literasi Media Digital untuk Santri Masa Kini

Perkembangan teknologi informasi yang bergerak cepat telah membawa perubahan besar dalam pola kehidupan umat manusia, termasuk dalam dunia pendidikan dan keagamaan. Di tengah derasnya arus digitalisasi global, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional menghadapi tantangan baru yang tidak dapat dihindari: bagaimana mempersiapkan santri agar tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga menjadi aktor aktif dan kritis di ruang digital. Tantangan ini bukan semata soal adaptasi terhadap teknologi, tetapi lebih dalam: menyangkut jati diri, nilai, dan masa depan generasi santri dalam menghadapi realitas digital yang kompleks dan kerap membingungkan.

Adanya kebutuhan mendesak untuk membekali para santri dengan literasi media digital yang mumpuni. Literasi ini tidak hanya sebatas kemampuan teknis mengoperasikan perangkat digital, melainkan mencakup kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memproduksi informasi dengan kritis, etis, dan produktif. Buku ini disusun sebagai respons atas kebutuhan tersebut, dengan pendekatan yang bersifat teoritis sekaligus aplikatif, memadukan nilai-nilai keislaman pesantren dengan prinsip-prinsip literasi digital kontemporer.

Struktur buku ini dirancang secara sistematis dan progresif. Dimulai dengan pembahasan mendasar mengenai literasi media digital, pembaca diajak memahami konteks, tantangan, dan peluang yang dihadapi santri di era digital. Pembahasan kemudian bergerak pada strategi integratif dalam pembelajaran di pesantren, termasuk pelibatan pendidik dan orang tua, serta pengembangan sumber daya yang mendukung. Dengan memperhatikan kebutuhan konteks pesantren yang khas, penulis menguraikan pula pentingnya etika digital dan akhlak santri sebagai pondasi moral dalam menggunakan media digital secara bijak dan bertanggung jawab.

Tidak kalah penting, buku ini menekankan urgensi transformasi santri dari sekadar konsumen informasi menjadi produsen konten keislaman yang inspiratif. Santri masa kini harus mampu menjadi subjek aktif dalam membentuk narasi digital yang damai, moderat, dan edukatif. Dalam konteks ini, bab-bab akhir buku mengangkat isu-isu krusial mengenai produktivitas digital, kolaborasi antar-pesantren, dan pembangunan ekosistem digital yang memberdayakan. Semangat kolaboratif ini menjadi kekuatan baru dalam membangun jaringan dakwah dan pembelajaran yang lintas wilayah dan generasi.


Detail:

Judul: Mencetak Santri Melek Digital: Literasi Media Digital untuk Santri Masa Kini
Penulis: Fazlul Rahman & Faiqotul Mala
Editor : -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2025
Halaman: vi + 114 hlm .; ukuran buku 16,5 cm x 24 cm
ISBN: 978-623-5448-82-4


Friday, May 23, 2025

Penguatan Manajemen Pengasuhan Santri di Pondok Pesantren


Sosok Kyai dipandang sebagai tokoh sentral, pemimpin, otoritas, dan penggerak perubahan dalam perspektif umum pesantren tersebut. Kesuksesan masa depan lembaga yang dipimpin oleh tokoh kyai tergantung dari gaya kepemimpinannya. Ini adalah hasil dari peran pemimpin, yang mengarahkan, mempengaruhi, dan memberikan contoh yang sangat baik untuk mencapai tujuan kelompok.

Manajemen diperlukan untuk mengarahkan perubahan dalam lembaga pendidikan. Dalam lembaga Pendidikan Islam Pondok Pesantren, peran pengasuh (parenting) sebagai pemimpin sangat menentukan. Hal ini didasarkan pada tanggung jawab utama Majelis Wali Amanat Pesantren yang merupakan badan pembuat kebijakan tertinggi dan penggerak utama perubahan lembaga pendidikan Islam. Pengurus pondok pesantren akan menentukan arah kebijakan pesantren mereka dan bertindak sebagai katalisator perubahan.

Penguatan Manajemen Pengasuhsan santri merupakan salah satu upaya dalam rangka mewujudkan disiplin dan kenyamanan santri selama menuntut ilmu di pondok pesantren. Buku ini mendiskripsikan penguatan manajemen pengasuhsan santri di pondok pesantren modern. Buku ini menyatakan bahwa pondok pesantren modern telah melakukan pola pengasuhan yang sistematis dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen dalam proses kepengasuhan santri yakni dengan melalui tahapan penguatan manajemen pengasuhan santri mulai dari restrukturisasi bagian pengasuhan santri mulai dari restrukturisasi bagian pengasuhan, pelaksanaan perencanaan, pengorganisasisan, supervisi dan evaluasi.

Dampak penguatan manajemen pengasusan santri yaitu meningkatkan tingkat kedisiplinan santri dalam melakukan melaksanakan kegiatan dan meningkatkan kenyamanan santri. Buku ini berpedoman terhadap peraturan tertulis yang dinamakan "Kitab Undang-undang Hukum Pengasuhan" atau disingkat KUHP. Peraturan ini dibuat sesuai aspirasi santri, guru, walisantri, dan pengasuh pondok sebagai instrumen penguatan manajemen.

Detail:
Judul: Penguatan Manajemen Pengasuhan Santri di Pondok Pesantren
Penulis: Panur Muhamad Shobirun
Editor : -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2025
Halaman: viii + 195 hlm .; ukuran buku 20.5 cm x 14.8 cm
ISBN: 978-623-5448-80-0


Filsafat Manajemen Pendidikan



Luasnya materi filsafat manajemen pendididikan perludipahami dengan bijak agar pengetahuan dan pemahaman tentang fondasi dan teori filsafat di dalam pendidikan dapat diserap dan diaplikasikan dalam kehidupan. Buku ini hadir sebagai kontribusi pemikiran dalam memperkaya khazanah literatur di bidang manajemen pendidikan, khususnya dalam menelaah dimensi filosofis yang melandasi praktik pengelolaan pendidikan. Struktur isi buku ini dimulai dari foundations of philosophy of education yang membahas tentang ontologi, epistimologi, aksiologi, metafisika, logical empirism, critical rationalism, science method, pragmatism and science, etika, estetika, politik, dan bahasa. Kemudian pada teori dasar dalam filsafat pendidikan membahas tentang parennialisme, esensialisme, progresivisme, rekonstruksionalisme sosial, eksistensialisme, kontruktivisme, dan humanisme.

Manajemen pendidikan selama ini sering dipahami sebagai cara, teknis dan prosedur dalam menjalankan sebuah manajemen yang ada di lembaga pendidikan. Namun, dibalik setiap perencanaan, keputusan kebijakan, stategi pengelolaan pendidikan terdapat pondasi filosofis yang akan mempengaruhi cara pandang dan orientasi manajerial pemimpin di dunia pendidikan. Oleh karena itu, pemahaman filsafat manajemen pendidikan sangat penting agar seluruh praktik dalam mengelola lembaga pendidikan tidak hanya bersifat instrumental, tetapi juga berlandaskan etika, nilai dan tujuan sebenarnya pendidikan.

Buku ini mengkaji berbagai pondasi filosofi pendidikan dan teori dasar dalam filsafat pendidikan yang relevan dalam manajemen pendidikan serta implikasinya terhadap perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya di satuan pendidikan. Selain itu, buku ini juga mengajak pembaca untuk merefleksikan isu dan fenomena dalam dunia pendidikan melalui kacamata filsafat, guna membangun sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan. Diterbitkannya buku ini dengan harapan agar pemahaman mahasiswa semakin meningkat tentang filsafat manajemen pendidikan. Selain itu, pemahaman mahasiswa dalam mengimplementasikan pondasi dan teori filsafat pendidikan dalam lembaga pendidikan merupakan output yang dihasilkan pada buku ini, sehingga adanya materi ini sungguh membuat mahasiswa benarbenar memahami nilai-nilai filsafat secara menyeluruh.

Detail:
Judul: Filsafat Manajemen Pendidikan
Penulis: Banu Atmoko, Anggraini Eka Sarrayu, Aning Lumiati, Arip Hertanto, [dan 9 lainnya]
Editor : Ahmad Fais
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2025
Halaman: xii + 218 hlm .; ukuran buku 25 cm x 18 cm
ISBN: 978-623-5448-81-7



Pesantren dan Spirit Kebangsaan

Pesantren dan Spirit Kebangsaan Membaca Kepemimpinan Kh. Mahrus Muhith Nahrawi dalam Menanamkan Cinta Tanah Air Pesantren mungkin tidak sela...